Menjaga Indonesia dari Beranda Barat
Oleh: Maulana Fadhilah, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
"Dimulai dari nol, ya..." Bukan soal pengisian bahan bakar, melainkan hitungan kilometer di mana batas Indonesia dimulai.
Apabila orang mengenang Jakarta sebagai kota yang riuh dengan ritme tinggi, Aceh kerap diingat lewat ketenangan, syahdu, dan keteguhan sejarahnya. Namun, teruslah melangkah ke arah barat daya hingga menyeberangi Selat Malaka. Di sana, berdiri anggun sebuah wilayah yang menjadi benteng paling utara dan barat Nusantara: Kota Sabang, di Pulau Weh.
Sabang bukan sekadar titik geografis atau batas pada peta. Sabang adalah hamparan samudera biru, riak gelombang yang memeluk tebing-tebing hijau, serta benteng kenangan yang menjaga garis depan kedaulatan Indonesia.
Menyebut Sabang adalah memanggil memori tentang titik Tugu Nol Kilometer Indonesia, sebuah tempat di mana bendera Merah Putih berdiri kokoh menatap Samudera Hindia. Namun, jiwa dari Pulau Weh terletak pada kedalaman pesona baharinya.
Dari Pantai Iboih yang tenang dengan gradasi air pirusnya, teduhnya Pantai Gapang di bawah naungan pepohonan rindang, hingga pesona bawah laut Pulau Rubiah yang menjadi surga bagi ratusan spesies terumbu karang dan biota laut, Sabang menyajikan kemegahan alam yang otentik.
Namun, daya tarik Sabang tak berhenti di atas garis pantai. Kota ini menyimpan warisan sejarah sebagai pelabuhan alam yang megah sejak era kolonial, ditinggali jejak benteng-benteng tua, rumah sakit bawah tanah, hingga julukan historisnya sebagai gerbang keberangkatan jamaah haji Indonesia pada masa lalu melalui Pulau Rubiah.
Denyut Kehidupan dan Hangatnya Masyarakat Pesisir
Masyarakat Sabang hidup dalam keharmonisan yang hangat. Sebagian besar dari warga mengandalkan kehidupan dari sektor perikanan, pariwisata bahari, jasa perhubungan laut, hingga usaha mikro berbasis olahan lokal seperti kuliner khas mi jalak, rujak buah, hingga sate gurita yang legendaris.
Gotong royong dan nilai kepedulian antarsesama mengalir kuat dalam keseharian masyarakat Sabang. Konsep kearifan lokal Panglima Laot menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat adat pesisir mengatur kehidupan laut, menjaga keseimbangan antara mencari nafkah dan melestarikan ekosistem laut agar tidak rusak ditelan zaman.
Wisatawan yang datang tidak hanya disambut oleh keindahan alam, tetapi juga oleh kehangatan senyum warga yang menyapa dengan ramah, mencerminkan pemuliaan tamu yang mengakar kuat dalam budaya Aceh.
Tantangan Geografis dan Layanan Perpajakan di Pesisir Samudera
Sama halnya dengan wilayah kepulauan lainnya di Indonesia, kondisi geografis Sabang yang terpisah oleh perairan Selat Malaka dari daratan utama Aceh memberikan tantangan tersendiri dalam menghadirkan pelayanan publik yang merata, termasuk dalam sektor perpajakan.
Masyarakat Sabang, mulai dari para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pariwisata, nelayan, hingga aparatur sipil negara (ASN), memiliki hak dan kewajiban yang sama terhadap negara. Untuk memastikan layanan tetap hadir tanpa terhalang laut dan cuaca, Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Sabang terus bergerak mendekatkan pelayanan.
Kini, masyarakat Kota Sabang tidak lagi harus merasa jauh dari pelayanan publik, khususnya dalam urusan perpajakan. Kehadiran KP2KP Sabang yang berdiri tepat di pusat kota menjadi ruang hangat bagi Kawan Pajak untuk datang langsung. Di sini, masyarakat bisa berkonsultasi, mengurus administrasi, hingga mendapat bantuan pendampingan pelaporan surat pemberitahuan (SPT) tahunan secara tatap muka dengan pelayanan yang ramah dan penuh kepedulian.
Jarak dan kendala geografis pun kian terkikis seiring bergulirnya penyempurnaan layanan digital. Sistem Coretax yang terjangkau dan layanan melalui WhatsApp membuat urusan pajak kini bisa diselesaikan dari mana saja. Kawan Pajak di Sabang tak perlu lagi merasa khawatir atau ragu harus menyesuaikan diri dengan jadwal penyeberangan kapal menuju daratan Aceh hanya demi mengurus administrasi perpajakan.
Tak hanya menunggu masyarakat datang, semangat melayani ini juga diwujudkan secara nyata melalui layanan jemput bola. Petugas pajak secara berkala melangkah langsung ke tengah-tengah aktivitas warga: menyapa para pelaku usaha di pusat kuliner, menyusuri keramaian dermaga, hingga menjangkau sentra-sentra UMKM di pelosok gampong. Lewat interaksi yang akrab, santai, dan penuh empati, edukasi serta pendampingan diberikan secara personal agar setiap kendala dan kebingungan perpajakan masyarakat dapat terurai dengan baik.
Bersama Membangun dari Ujung Barat
Pajak yang dikumpulkan dari setiap sudut Nusantara, termasuk dari Pulau Weh, mengalir kembali menjadi pondasi pembangunan: memperkuat infrastruktur pelabuhan, menyokong fasilitas kesehatan dan pendidikan, hingga menjaga stabilitas ekonomi di wilayah terdepan Indonesia.
Dari Tugu Nol Kilometer hingga sudut-sudut gampong di Sabang, geliat masyarakatnya adalah bukti bahwa Indonesia tidak hanya dibangun dari pusat kota yang megah, tetapi juga dipeluk teguh dari beranda terdepan negeri.
Karena pada akhirnya, setiap cerita dari warga di batas laut ini adalah bagian dari kisah besar kita semua. Saat pelayanan hadir lebih hangat dan makin dekat ke keseharian masyarakat, rasa saling bantu pun tumbuh dengan sendirinya. Dari dermaga, pasar, hingga ke pelosok gampong, semangat itu terus berjalan bersama. Roda usaha warga bisa terus berputar dan negeri ini terasa makin kokoh, bahkan dari ujung paling barat Indonesia.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 4 kali dilihat