Memaknai Esensi Ramadhan Dalam Ngabuburit Spectaxcular 2026
Oleh: Deshita Maharani Raharjo, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Bulan Ramadan selalu memiliki makna istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ibadah Ramadan ini sebagai bentuk ketaatan, pengendalian diri, dan peningkatan kualitas spiritual. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, Ramadan adalah proses pembinaan jiwa, perbaikan akhlak, dan penguatan hubungan sosial antar umat manusia.
Berpuasa turut menghadirkan empati sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, seseorang menjadi lebih mudah memahami kondisi mereka yang kurang beruntung. Inilah sebabnya, Bulan Suci ini sering kali menjadi momentum meningkatnya semangat berbagi dan kepedulian sosial. Di Indonesia, kekayaan tradisi turut mewarnai suasana Ramadhan dengan beragam kegiatan seperti buka puasa bersama, berbagi takjil, maupun kegiatan bakti sosial di lingkungan masyarakat yang menciptakan suasana kebersamaan.
Di tengah suasana Ramadan yang sarat refleksi dan penguatan nilai kepedulian, berbagai inisiatif kebaikan juga hadir dalam ruang-ruang pelayanan publik. Semangat berbagi dan mempermudah urusan sesama tidak hanya terwujud dalam aktivitas sosial, tetapi juga dalam upaya menghadirkan layanan yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Momentum inilah yang kemudian melahirkan berbagai program yang dirancang untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat secara lebih humanis.
Pelaporan surat pemberitahuan (SPT) tahunan di tahun 2026 (untuk tahun pajak 2025) menghadirkan tantangan tersendiri karena untuk pertama kalinya dilakukan melalui sistem Coretax. Pesta akbar lapor pajak ini sekaligus bertepatan dengan Ramadan. Transisi ke sistem baru menuntut wajib pajak untuk beradaptasi dengan fitur dan layanan yang berbeda. Di sisi lain, jam pelayanan tatap muka selama Ramadn mengalamai penyesuaian sehingga lebih singkat dibandingkan hari biasa. Kondisi ini mengharuskan petugas pajak maupun wajib pajak untuk menyesuaikan ritme dan memaksimalkan waktu pelayanan yang tersedia agar proses pelaporan SPT tetap berjalan lancar, tertib, dan tepat waktu.
Jam pelayanan yang lebih singkat di bulan Ramadan bukanlah menjadi penghalang bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk terus memberikan pelayanan prima. Demi menyukseskan pelaporan SPT tahunan kali ini, DJP menghadirkan program Ngabuburit Spectaxcular yang dilaksanakan oleh seluruh unit kerja vertikal DJP di Indonesia. Perhelatan kampanye simpatik pelaporan SPT tahunan dalam Kick Off Ngabuburit Spectaxcular 2026 dibuka secara langsung oleh Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto di Auditorium Cakti Buddhi Bhakti Kantor Pusat DJP, Jakarta Selatan (Jumat, 13/2). Dengan menjunjung pesan “Kami Dampingi Sampai Berhasil”, DJP memanfaatkan momentum bulan Ramadan untuk membangun interaksi yang humanis dan sarat nilai religius antara petugas pajak dan wajib pajak.
Mengusung semangat “ngabuburit” yang lekat dengan kebersamaan masyarakat Indonesia saat menanti waktu berbuka, layanan pelaporan SPT Tahunan diperpanjang di luar jam kerja regular termasuk hari Sabtu dan Minggu. Inisiatif ini memberikan ruang dan kemudahan bagi wajib pajak yang memiliki kesibukan dan keterbatasan waktu pada jam kerja. Wajib pajak pada akhirnya memiliki fleksibilitas untuk memilih hadir di hari kerja maupun hari libur sesuai kondisi masing-masing. Selaras dengan nilai pelayanan dan tuntutan profesionalisme, ketepatan waktu dan kepastian layanan adalah bentuk tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat.
Selama pelaksanaan Ngabuburit Spectaxcular ini, petugas pajak di seluruh Indonesia berkomitmen untuk siap siaga dalam memberikan asistensi, membantu proses pengisian dan pelaporan SPT sampai berhasil. Layanan ini termasuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan wajib pajak. Pelayanan yang diberikan bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan juga wujud nyata dari semangat berbagi; yakni berbagi waktu, tenaga, dan perhatian demi kemudahan masyarakat.
Kepedulian sosial dan semangat berbagi memberikan nyawa bagi kegiatan Ngabuburit Spectaxcular. Berbagi dalam arti luas tidak selalu tentang materi; ia juga hadir dalam bentuk pelayanan yang tulus dan kesempatan hadir yang dibuka seluas-luasnya. Dengan memperpanjang jam layanan, DJP berbagi akses dan kenyamanan, memastikan setiap wajib pajak memiliki peluang yang sama untuk melaksanakan kewajibannya tanpa terburu-buru.
Pada akhirnya, bulan Ramadan menjadi momen evaluasi diri. Apa yang bisa diperbaiki dan apa yang bisa ditingkatkan. Semangat perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) sejatinya tidak hanya relevan bagi individu, tetapi juga bagi DJP sebagai institusi.
Dengan menanamkan integritas, empati, kedisiplinan, dan semangat melayani, bulan Ramadan dapat menjadi penguat komitmen untuk memberikan pelayanan prima dan terpercaya. Sebab pada hakikatnya, setiap peran, sekecil apa pun adalah bagian dari kontribusi besar bagi negara dan masyarakat.
Semoga nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada tradisi-tradisi rutin tahunan, tetapi menjelma menjadi karakter yang melekat dalam setiap langkah pengabdian.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 32 kali dilihat