Renjani: Lebih dari Sekadar Relawan
Oleh: Kawas Rolant Tarigan, pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kembali membuka gerbang pengabdian bagi generasi muda melalui rekrutmen relawan pajak untuk negeri (Renjani) untuk periode pendayagunaan 2027. Pendaftaran yang berlangsung mulai 31 Agustus hingga 2 Oktober 2026 melalui portal https://edukasi.pajak.go.id/renjani ini bukan sekadar agenda rutin tahunan.
Lebih dari itu, Renjani telah berevolusi menjadi sebuah gerakan sosiologis yang mempertemukan kebutuhan negara, dunia akademik, dan tantangan modernisasi teknologi. Di tengah transformasi besar ekosistem perpajakan nasional, kehadiran para relawan ini memegang peran yang semakin krusial dan strategis.
Menjembatani Kesenjangan
Secara makro, Indonesia dihadapkan pada tantangan rasio pelayanan perpajakan yang tidak mudah. Ketidakseimbangan antara jumlah wajib pajak (WP) dengan pegawai pajak menuntut akselerasi pelayanan yang tidak mungkin bertumpu pada pundak pegawai pajak semata. Di sinilah Renjani hadir sebagai perpanjangan tangan negara (extended arm).
Ekosistem tax center dalam sistem Renjani kini telah mencakup lebih dari 600 perguruan tinggi, dan jumlahnya diproyeksikan terus bertumbuh sejalan dengan ekspansi pendidikan tinggi di Indonesia. Sampai dengan Semester I 2026, lebih dari 8.000 mahasiswa telah mengambil bagian dalam berbagai kegiatan perpajakan dan menghasilkan lebih dari 1,62 juta aktivitas edukatif.
Peran mereka tidak terbatas pada edukasi, tetapi juga mencakup asistensi aktivasi akun Coretax, permintaan sertifikat kode otorisasi, pengisian surat pemberitahuan (SPT) tahunan, penyebarluasan informasi perpajakan, pendampingan business development services (BDS) bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga dukungan terhadap berbagai layanan perpajakan secara langsung kepada masyarakat.
Melalui kehadiran mahasiswa dan akademisi di berbagai kantor pajak, negara mendapatkan suntikan energi baru. Gaya komunikasi anak muda yang inklusif, segar, dan bebas dari kesan kaku birokrasi mampu mencairkan ketakutan atau kecemasan masyarakat awam saat hendak memenuhi kewajiban perpajakannya.
Laboratorium Praktik Nyata
Bagi dunia perguruan tinggi, Renjani bukan lagi sekadar aktivitas ekstrakurikuler pengisi waktu luang. Program ini telah bertransformasi menjadi laboratorium praktik yang mutakhir melalui implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning). Keterlibatan aktif sebagai relawan kini memiliki nilai tawar akademik berupa konversi satuan kredit semester (SKS) kuliah.
Mahasiswa tidak hanya duduk mendengarkan teori di ruang kelas, tetapi juga langsung diterjunkan untuk menghadapi dinamika riil di lapangan. Mereka mengasah soft skills kepemimpinan, komunikasi taktis, dan pemecahan masalah saat mendampingi pelaku UMKM atau wajib pajak lainnya. Pengalaman empiris inilah yang bakal sangat berharga bagi portofolio karier mereka di masa depan.
Human Touch di Era Digitalisasi
DJP berada dalam momentum implementasi Coretax, sebuah pembaruan sistem teknologi informasi perpajakan yang serba digital, terintegrasi, dan otomatis. Namun, secanggih apa pun sebuah sistem teknologi, keberhasilannya sangat ditentukan oleh kesiapan penggunanya (user readiness).
Di era digitalisasi, peran manusia (human touch) tetap krusial, tidak tergantikan. Renjani mengambil peran strategis sebagai pemandu adaptasi teknologi bagi masyarakat. Ketika ada lapisan masyarakat yang masih gagap teknologi atau bingung menghadapi sistem baru, para relawan hadir mendampingi secara personal. Mereka juga menjadi teman untuk meluruskan berbagai disinformasi perpajakan yang kerap simpang siur di media sosial. Renjani memastikan bahwa transisi digital perpajakan nasional berjalan inklusif tanpa meninggalkan satu pun lapisan masyarakat di belakang.
Membangun Tax Morale
Kesadaran pajak (tax morale) sebuah bangsa tidak bisa dipaksakan hanya melalui pendekatan hukum normatif atau sanksi denda. Kesadaran itu harus tumbuh sebagai bagian dari budaya hidup bernegara. Renjani adalah manifestasi dari patriotisme dan gotong royong fiskal. Para mahasiswa yang bergabung sebagai relawan tidak sedang berdedikasi tanpa hasil, melainkan sedang menginvestasikan waktu dan pemikiran mereka demi kemandirian fiskal bangsa.
Ketika seorang anak muda dengan antusias mengedukasi seorang pemilik usaha mikro mengenai fasilitas bebas pajak omzet di bawah Rp500 juta, di saat itulah fondasi kepercayaan terhadap institusi negara sedang diperkuat. Gerakan ini perlahan mengubah paradigma masyarakat: bahwa membayar pajak bukan lagi sekadar kewajiban hukum yang memaksa, melainkan sebuah kontribusi gotong royong demi pembangunan fasilitas publik yang dinikmati bersama.
Menuju Generasi Emas Sadar Pajak
Program Renjani periode pendayagunaan 2027 adalah momentum emas untuk ikut ambil bagian dalam modernisasi perpajakan Indonesia. Bagi DJP, relawan adalah mitra strategis pelayanan; bagi mahasiswa, ini adalah gerbang kematangan kompetensi; dan bagi masyarakat, mereka adalah wajah ramah perpajakan Indonesia. Semua upaya dikerahkan guna mewujudkan kemandirian bangsa melalui kesadaran pajak yang berkelanjutan.
Pendaftaran telah dibuka. Selamat bergabung bagi para calon agen perubahan. Mari melangkah bersama Renjani, karena masa depan kemandirian bangsa ada di tangan generasi yang peduli dan sadar pajak hari ini.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 15 kali dilihat