Sering Kirim Chat ke Diri Sendiri? Selamat, Anda Sudah Siap Hadapi Era Coretax!
Oleh: (Muhammad Fadhlansyah Nasution), pegawai Direktorat Jenderal Pajak
Pernahkah Anda menemukan sebuah artikel menarik saat sedang berselancar di internet, tapi tidak punya waktu untuk membacanya saat itu juga? Atau mungkin, Anda menerima dokumen penting dari rekan kerja yang takut tertimbun obrolan grup? Apa yang biasanya Anda lakukan?
Jika jawaban Anda adalah menyalin tautan atau meneruskan dokumen tersebut ke nomor WhatsApp Anda sendiri, Anda tidak sendirian. Fenomena digital kontemporer ini telah melahirkan pola perilaku unik di mana kita menggunakan platform komunikasi antarpribadi untuk tujuan personal. Kita sering menamai kontak tersebut dengan "Me", "Catatan", atau sekadar nama kita sendiri.
Tanpa sadar, kebiasaan sederhana ini—yang secara formal disebut sebagai self-messaging—bukanlah sekadar tindakan iseng. Ini adalah mekanisme psikologis yang mendalam. Saat Anda memilih pesan mana yang harus disimpan dan mana yang dibiarkan berlalu, Anda sedang melakukan validasi. Anda sedang memilah informasi.
Kabar baiknya, jika Anda terbiasa melakukan ini, Anda sebenarnya sedang melatih "otot" kognitif yang sangat dibutuhkan dalam sistem perpajakan terbaru Indonesia, Coretax. Mari kita telusuri bagaimana kebiasaan sederhana di layar ponsel ini menjadi fondasi bagi peran baru kita sebagai warga negara yang taat pajak.
Seni Memilah Pesan: Sebuah Latihan Self-Assessment Harian
Secara kasat mata, mengirim pesan ke diri sendiri tampak seperti solusi praktis agar kita tidak lupa. Namun, para ahli melihat ini sebagai cognitive offloading atau pengalihan beban kognitif. Otak kita memiliki kapasitas memori kerja yang terbatas. Saat banjir informasi datang, kita butuh "hard disk eksternal" untuk menyimpan hal-hal penting agar otak bisa tetap fokus.
Tapi, coba perhatikan lebih teliti cara Anda melakukannya. Apakah semua pesan Anda kirim ke diri sendiri? Tentu tidak.
Anda melakukan seleksi. Anda bertindak sebagai kurator sekaligus validator. Anda memisahkan antara data yang memiliki nilai jangka panjang dengan dorongan impulsif sementara yang hanya memenuhi memori. Proses filtrasi kognitif ini menentukan apakah sebuah tautan adalah "aset" yang penting atau hanya "gangguan".
Dalam dunia psikologi, ini adalah bentuk mikro dari penilaian diri (self-assessment). Anda menilai kebutuhan Anda sendiri, memvalidasi kebenaran informasi yang ingin Anda simpan, dan memutuskan tindakan apa yang harus diambil atas informasi tersebut. Keterampilan inilah yang secara tidak langsung melatih mentalitas kita untuk menjadi otoritas terakhir atas validitas informasi yang masuk ke ruang pribadi kita.
Siapa sangka, rutinitas "remeh" ini ternyata merupakan simulasi sempurna untuk menghadapi perubahan besar dalam administrasi perpajakan kita.
Transformasi Digital: Dari Tukang Input Menjadi Sang Validator
Kini, mari kita beralih ke dunia perpajakan. Selama bertahun-tahun, wajib pajak sering kali merasa terbebani dengan proses administrasi. Di sistem lama, kita harus mengumpulkan bukti potong secara manual, menghitung ulang total penghasilan, dan memasukkan data tersebut satu per satu ke dalam formulir SPT. Proses ini bukan hanya memakan waktu, tetapi juga rentan terhadap kesalahan manusia atau human error. Kita seolah-olah bekerja sebagai "tukang input data".
Namun, Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sedang mengubah paradigma ini melalui implementasi Core Tax Administration System (CTAS) atau Coretax.
Salah satu inovasi paling signifikan yang ditawarkan Coretax adalah fitur pre-populated. Bayangkan fitur ini sebagai asisten pribadi yang cerdas. Sistem akan secara otomatis menarik data pemotongan pajak dari pihak ketiga—seperti pemberi kerja, bank, atau instansi pemerintah—dan menampilkannya langsung di akun SPT Anda.
Di sinilah letak pergeseran peran yang krusial. Peran Anda bergeser dari penginput data manual menjadi validator atas kebenaran data yang disediakan oleh sistem. Ini sangat mirip dengan saat Anda meninjau kembali chat pribadi di WhatsApp. Sistem menyodorkan data ("pesan"), dan tugas Anda adalah memeriksa: Apakah angka ini benar? Apakah ada yang kurang? Apakah ini milik saya?
Mekanisme "Confirm, Change, Reject": Kedaulatan di Tangan Anda
Dalam sistem Coretax, data yang muncul di layar Anda bukanlah harga mati. Sistem ini mengadopsi prinsip Human-in-the-Loop (HITL), di mana manusia—yaitu Anda—berfungsi sebagai pengendali akhir untuk memastikan akurasi. Meskipun sistem Coretax dapat mengumpulkan jutaan data dalam hitungan detik, algoritma sering kali kekurangan konteks personal yang hanya dimiliki oleh wajib pajak.
Sama seperti Anda berhak menghapus pesan WhatsApp yang sudah tidak relevan, Anda juga memiliki otoritas penuh dalam Coretax untuk melakukan tiga hal:
Pertama, Mengonfirmasi. Jika data pre-populated yang muncul sudah sesuai dengan fakta yang Anda terima—misalnya bukti potong gaji dari kantor sudah tepat—Anda cukup memberikan persetujuan. Ini seperti memberi tanda bintang pada pesan penting.
Kedua, Mengubah. Jika data tidak sesuai dengan fakta lapangan, Anda memiliki wewenang untuk menyesuaikannya. Mungkin ada kesalahan klasifikasi atau angka yang keliru dari pihak pemotong. Di sini, Anda melakukan koreksi agar catatan digital sesuai dengan realitas.
Ketiga, Menolak atau tidak menggunakan data tersebut jika dirasa tidak relevan dengan kondisi perpajakan Anda.
Kewenangan ini menuntut "efikasi diri" atau rasa percaya diri yang tinggi. Anda tidak lagi sekadar mengikuti apa kata sistem, tetapi Anda memegang kendali. Transparansi ini bertujuan menurunkan biaya kepatuhan (compliance cost), baik itu uang, waktu, maupun beban psikologis yang selama ini menghantui wajib pajak.
Menghindari Jebakan "Terima Beres": Tantangan Literasi Digital
Meskipun fitur pre-populated menawarkan kemudahan luar biasa yang memanjakan kita, ada satu risiko psikologis yang perlu kita waspadai: omission bias atau bias kelalaian.
Bias ini terjadi ketika seseorang cenderung membiarkan kesalahan dalam data yang sudah ada daripada melakukan tindakan aktif untuk memperbaikinya. Contoh sederhananya, jika sistem secara tidak sengaja menampilkan jumlah pajak terutang yang lebih rendah dari yang seharusnya, ada godaan untuk diam saja dan langsung klik "Kirim".
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki skeptisisme sehat terhadap otomatisasi justru mampu mendeteksi kesalahan lebih andal. Kita tidak boleh terjebak dalam perilaku rubber-stamping atau sekadar stempel otomatis tanpa membaca.
Di sinilah pentingnya literasi digital. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, melainkan kemampuan memahami konsekuensi dari data yang kita validasi. Seperti halnya kita tidak akan sembarangan menyimpan tautan hoax di ruang chat pribadi kita, kita juga harus memastikan data perpajakan kita bersih dari kesalahan, meskipun kesalahan itu seolah "menguntungkan" kita sesaat.
Sebagai validator, kita bisa mengidentifikasi anomali yang mungkin terlewat oleh mesin, seperti zakat yang bisa menjadi pengurang penghasilan bruto, atau kondisi khusus lainnya yang tidak terekam dalam database pihak ketiga.
Menyongsong Masa Depan dengan Optimisme
Transisi ke era Coretax bukan sekadar perubahan aplikasi atau website. Ini adalah pergeseran budaya. Kebiasaan menyimpan catatan di WhatsApp yang selama ini kita anggap sepele, ternyata merupakan latihan kognitif harian dalam mengelola ekspektasi dan melakukan penilaian diri yang jujur.
Ketika keterampilan kurasi informasi ini kita bawa ke dalam ekosistem Coretax, ia bertransformasi menjadi bentuk kepatuhan sukarela (voluntary compliance) yang sejati. Kita patuh bukan karena takut dikejar-kejar petugas pajak, melainkan karena kita sadar bahwa data yang akurat adalah cerminan integritas kita sebagai warga negara.
Coretax hadir bukan sebagai "mesin pengawasan", melainkan sebagai cermin digital dari sejarah ekonomi kita. Dengan fitur pre-populated, negara hadir memberikan layanan layaknya asisten pribadi yang menyiapkan data, namun tetap menghormati kedaulatan kita sebagai penentu keputusan akhir.
Jadi, jangan merasa cemas menghadapi sistem baru ini. Tanpa disadari, Anda sudah berlatih setiap hari. Setiap kali Anda memutuskan untuk menyimpan sebuah pesan penting di WhatsApp, Anda sedang mengasah insting validator Anda.
Masa depan perpajakan Indonesia ada di tangan para validator cerdas—yaitu Anda. Mari kita sambut era transparansi ini dengan percaya diri, karena menjadi warga negara yang baik kini semudah mengelola pesan untuk diri sendiri. Validasi diri Anda, validasi data Anda, dan jadilah pahlawan bagi kemajuan bangsa.
*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.
- 25 kali dilihat