Oleh: Hero Putra Novanto, pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Setiap hari, ribuan orang melintasi jalur Pantai Utara Jawa (Pantura). Ada yang berangkat bekerja sejak pagi, mengantarkan barang, berdagang, pergi ke pasar, mengunjungi keluarga, atau sekadar menempuh perjalanan dari satu kota ke kota lainnya. Bagi sebagian orang, jalan mungkin hanya menjadi sarana untuk mencapai tujuan. Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih jauh, jalan sesungguhnya menyimpan cerita tentang kehidupan.

Jalan mempertemukan orang dengan orang lain, menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya, serta membuka jalan bagi perdagangan, pekerjaan, dan berbagai aktivitas ekonomi. Jalan menghubungkan kita, konektivitas menggerakkan kehidupan, dan dari kehidupan yang bergerak, lahirlah penghasilan. Ketika penghasilan tersebut telah memenuhi ketentuan perpajakan, di situlah muncul ruang bagi kita untuk mengambil bagian dalam kehidupan bernegara melalui pajak.

Jalan yang Menghubungkan

Jalan yang membentang dari Anyer hingga Panarukan tersebut dibangun antara lain untuk mendukung pertahanan, komunikasi, dan mobilitas pemerintahan kolonial. Pembangunannya juga meninggalkan catatan sejarah yang kompleks mengenai kehidupan masyarakat pada masa itu. Sejarah tersebut tentu tidak dapat disamakan dengan kehidupan bernegara pada masa kini. Indonesia hari ini adalah negara yang berdiri dengan hukum, pemerintahan, serta mekanisme pembiayaan pembangunan yang berbeda.

Namun, ada satu hal yang tetap relevan untuk kita renungkan: sebuah negeri membutuhkan konektivitas agar dapat terus bergerak dan membutuhkan kontribusi masyarakat agar dapat terus bertumbuh. Dahulu, jalan menjadi penghubung berbagai wilayah. Kini, masyarakat memiliki berbagai cara untuk ikut mengambil bagian dalam perjalanan pembangunan negeri. Salah satunya melalui pajak.

Dari Jalan Menjadi Penghidupan

Coba kita lihat kehidupan sehari-hari di sepanjang Pantura. Ada pedagang yang membawa dagangannya dari satu kota ke kota lain, ada pengemudi yang mengantarkan barang, ada pekerja yang setiap pagi menempuh perjalanan menuju tempat kerja, ada pemilik warung yang melayani pelanggan, ada pelaku usaha yang memproduksi dan menjual barang, dan ada pula masyarakat yang menawarkan berbagai jasa untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Jalan yang kita lalui membantu mempertemukan penjual dengan pembeli. Kendaraan membawa barang dari satu tempat ke tempat lain. Pasar mempertemukan kebutuhan dengan usaha dan dari berbagai aktivitas tersebut, masyarakat memperoleh penghasilan. Penghasilan kemudian kembali menjadi bagian dari kehidupan: untuk membeli kebutuhan sehari-hari, membiayai pendidikan, memenuhi kebutuhan keluarga, mengembangkan usaha, atau mempersiapkan masa depan.

Pada saat yang sama, ketika seseorang memperoleh penghasilan dan telah memenuhi ketentuan perpajakan, terdapat hak dan kewajiban perpajakan yang perlu dipahami dan dilaksanakan. Di sinilah pajak tidak semestinya hanya dilihat sebagai urusan administrasi karena pajak adalah salah satu bentuk kontribusi kita dalam kehidupan bernegara.

Pajak: Kontribusi yang Mungkin Tidak Selalu Kita Lihat

Kita mungkin tidak selalu menyadari bagaimana kontribusi pajak hadir dalam kehidupan sehari-hari, kita melewati jalan untuk bekerja, barang dapat dikirim dari satu daerah ke daerah lain, anak-anak bersekolah, serta masyarakat memperoleh berbagai layanan publik, berbagai kegiatan pemerintahan, dan pembangunan terus berjalan.

Manfaat tersebut tidak selalu dapat kita hubungkan secara langsung dengan pajak yang kita bayarkan. Kita juga tidak dapat mengatakan bahwa pajak yang dibayarkan seseorang secara langsung membiayai satu ruas jalan tertentu. Pembangunan dan penyelenggaraan negara memiliki mekanisme penganggaran serta berbagai sumber pendanaan.

Namun, pajak menjadi salah satu sumber penerimaan negara yang digunakan untuk membiayai berbagai kebutuhan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Karena itu, mungkin kita tidak pernah tahu persis siapa yang akan merasakan manfaat dari kontribusi yang kita berikan.

Dulu Jalan Menghubungkan Kita, Kini Kontribusi Menghubungkan Kita dengan Negeri

Ada sebuah makna sederhana yang dapat kita tarik dari perjalanan Pantura. Sebuah jalan tidak dibuat hanya untuk satu orang. Ia menjadi penghubung agar banyak orang dapat bergerak, bertemu, bekerja, dan menjalankan kehidupan. Begitu pula dengan kontribusi. Ketika kita memenuhi kewajiban perpajakan sesuai ketentuan, kontribusi tersebut menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kita sendiri.

Mungkin pajak yang kita bayarkan tidak langsung terlihat hasilnya di depan mata. Namun, kontribusi itu menjadi bagian dari penerimaan negara. Bersama kontribusi dari masyarakat lainnya, penerimaan tersebut menjadi bagian dari kemampuan negara dalam menjalankan berbagai fungsi dan menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat. Kita mungkin tidak melihat seluruh perjalanan kontribusi kita. Namun, kita tahu bahwa setiap kontribusi mengambil bagian dalam perjalanan yang lebih besar.

Sesarengan Ngluhuraké Nagara

Masyarakat Jawa mengenal nilai guyub, gotong royong, dan kebersamaan. Pekerjaan yang terasa berat dapat menjadi lebih ringan ketika dilakukan bersama-sama. Semangat itulah yang dapat kita bawa dalam kehidupan bernegara.

Sesarengan ngluhuraké nagara dapat dimaknai sebagai semangat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam mengangkat negeri. Bukan berarti setiap orang harus memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama. Bukan pula berarti setiap orang memiliki keadaan ekonomi yang sama.

Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Namun, ketika kita memperoleh penghasilan dan telah memenuhi ketentuan perpajakan, memenuhi kewajiban pajak adalah salah satu bentuk nyata dari kontribusi kita sesuai dengan peran dan kemampuan yang diatur oleh negara melalui ketentuan perpajakan. Dari sinilah gotong royong memperoleh makna baru. Bukan tentang seberapa besar kontribusi orang lain, melainkan tentang kesediaan kita untuk mengambil bagian sesuai ketentuan.

Memayu Hayuning Bawana

Semangat kebersamaan tersebut kemudian bertemu dengan filosofi memayu hayuning bawana, sebuah pengingat tentang ikhtiar untuk menjaga dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan harmonis. Dalam kehidupan bernegara, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam mewujudkan kehidupan bersama yang lebih baik. Membayar pajak bukan satu-satunya bentuk kontribusi kepada negeri. Ada banyak cara lain untuk berbuat baik bagi sesama dan lingkungan.

Namun, bagi masyarakat yang telah memenuhi ketentuan perpajakan, melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan dengan benar merupakan salah satu bentuk partisipasi dalam kehidupan bernegara. Mungkin sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, kontribusi yang sederhana dapat menjadi sesuatu yang berarti.

Dari Kita Untuk Negeri

Pantura mengajarkan sebuah pelajaran sederhana: tidak ada perjalanan yang benar-benar berdiri sendiri. Perjalanan membutuhkan jalan, perdagangan membutuhkan konektivitas, usaha membutuhkan pembeli dan penjual, pekerjaan membutuhkan orang lain, dan pembangunan membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak.

Begitu pula dengan kehidupan bernegara. Ketika kita memperoleh penghasilan dan telah memenuhi ketentuan perpajakan, mari melihat pajak bukan semata-mata sebagai kewajiban yang harus diselesaikan, tetapi sebagai bagian dari kontribusi kita dalam perjalanan bersama sebagai sebuah bangsa.

Tidak perlu menunggu menjadi besar untuk berkontribusi. Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk peduli. Ketika sudah memenuhi ketentuan perpajakan, mari tunaikan kewajiban kita dengan benar. Ketika memiliki hak perpajakan, mari gunakan dengan benar dan ketika membutuhkan informasi, mari mencari dari sumber resmi dan terpercaya.

Sebab, membangun negeri bukan hanya tentang siapa yang berada di garis depan. Membangun negeri adalah tentang siapa saja yang bersedia mengambil bagian. Dari jalan yang dahulu menghubungkan berbagai wilayah, hari ini kita melanjutkan perjalanan melalui jalan kontribusi.

“Sesarengan ngluhuraké nagara, memayu hayuning bawana”

Bersama-sama mengambil bagian dalam perjalanan untuk mengangkat negeri dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi kita semua.

*)Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.

Konten yang terdapat pada halaman ini dapat disalin dan digunakan kembali untuk keperluan nonkomersial. Namun, kami berharap pengguna untuk mencantumkan sumber dari konten yang digunakan dengan cara menautkan kembali ke halaman asli. Semoga membantu.